Postingan

Akhir Penantian pada Keabadian.

     Tak pernah aku dibuat ragu untuk menjemputmu. Apakah mati adalah akhir dari segala penantianku?. Kalaupun iya agar tersayangku bahagia, aku rela. Bahkan sebenarnya aku saja tidak tahu aku ini hidup untuk apa, untuk siapa, dan bagaimana?. Padahal, susunan keinginanku sudah tertata rapi di dalam buku. tahun ini. Mati, adalah kata yang selalu saja menghantui, seolah-olah aku ini sudah siap untuk sekarat, tapi nyatanya aku memang sudah babak belur penuh sayat. Jika ketenangan aku temukan dalam keabadian, aku ingin menuju ke sana, aku ingin berada di dalamnya. Rindu aku menuju kedamaian, walaupun berada dalam kematian.

Hamba Berdosa

Bukan salah lagi, kamarku lebih rapi, dandanku jauh lebih berseri. Untaian kalimat munajat sudah aku telan sebagai sarapan setiap pagi. Senyum tertumpah ruah. Kini pertanyaan "apakah pantas hamba yang berdosa ini mengharap bahagia seutuhnya". Terjawab, tak selalu dengan peristiwa yang membelalak mata, tak harus selalu aku sadari pada satu waktunya. Tapi, tiap makna demi makna, doa demi doa. Tak kusangka, terjadi setelahnya, terjadi seutuhnya.  Yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbii 'ala diinik     "Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)." (HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, 6:315).    

Batas Pantas

     Dayu- mendayu degup jantung yang bekerja saat hari itu. Tiada sangka, rupa yang belum pernah ia temui sebelumnya kini sudah tergambar jelas di depan mata. Sontak mata kami terbelalak, dengan nafas yang sedikit sesak. Mencoba mendekat, tetapi sedikit terhambat. Tidak ada yang cepat, semua memang cukup lambat. Sembari berjalan kembali dengan membawa segala gundah yang sudah menjiwai hati. Harap- harap cemas, sudah cukup malas dengan semua janji- janji tanpa batas. Tapi keyakinan tidak akan pernah tuntas jika kami saling berbalas. Tiada yang perlu disesali, memang belum saatnya untuk kembali.

Bukan Selamanya

"Banyak yang berpulang, banyak pula yang sedang bersenang- senang. Nak, dunia bukan segalanya, bagian fana yang paling banyak menipu manusia. Hari ini memang banyak bahagianya, hari ini banyak juga berita yang mengundang duka. Nak, jangan selalu tautkan hatimu kepada sesuatu yang semu. Ia benar- benar palsu. Sesuatu yang sementara tidak akan bisa membuat kamu senang selamanya."

18/06/22

Semoga Allah tetap memberi kekuatan pada bahu- bahu mereka yang sedang berjuang 'tuk meraih ria.  Hari ini, memang bukan jadi hari dalam bersuka cita. Level dunia terlalu rendah bagi kita yang tidak bisa untuk bercanda.  Mungkin esok, atau, tiga jam setelahnya, datang hal-hal yang membuat kita sampai bingung "bagaimana cara untuk meledakkan rasa syukur ini" .  Sedihnya sehari, tapi, bersabar untuk jalan sebentar lebih baik dalam menjemput bahagia yang kan terlukis indah dihatinya .

Bukan Salah

Bukan salah dia, jika paras membuat semua jiwa bisa terpanah dengan mudahnya. Tanpa kata, rupa dalam diam pun tidak akan ada yang bisa untuk menyainginya. Terpaut beberapa saat, bukan jadi masalah kalau pipi sudah memerah.  Sayang, mata yang bertemu selalu saja tidak bisa untuk bersatu padu.... Kadang yang tidak ada artinya, bisa jadi paling banyak dalam menyumbang rasa. Bukannya tidak teranggap, tapi masih ada ruang lain untuk berhinggap. Andai saja dia tahu kalau ruang baru siap untuk bertemu, apakah yang lalu siap untuk menepi dahulu?

Siapa Dia?

Siapa dia yang memang lemah lembut hatinya, tanpa pernah ditemui sekalipun, dan ini yang pertama. Yang pertama, dan berharap jadi selamanya, tapi tidak mungkin .  Sejauh mata memandang, sejauh pula jejak rekam bisa terkenang. Jejak rekam yang tak akan pernah ada interaksi diantara kita. Bagaimana mungkin, terjalin interaksi antara dua orang yang satu arah berbeda tujuan? Bagaimana mungkin, saat banyak pendekatan, kita malah lebih jauh terbang pada kerenggangan?