Hamba Berdosa
Bukan salah lagi, kamarku lebih rapi, dandanku jauh lebih berseri. Untaian kalimat munajat sudah aku telan sebagai sarapan setiap pagi. Senyum tertumpah ruah. Kini pertanyaan "apakah pantas hamba yang berdosa ini mengharap bahagia seutuhnya". Terjawab, tak selalu dengan peristiwa yang membelalak mata, tak harus selalu aku sadari pada satu waktunya. Tapi, tiap makna demi makna, doa demi doa. Tak kusangka, terjadi setelahnya, terjadi seutuhnya.
Komentar
Posting Komentar